Mengenal lebih dekat geografi, sejarah, demografi, dan kekayaan budaya kabupaten terluas di Jawa Timur yang berdiri sebagai gerbang timur Pulau Jawa.
Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling timur Pulau Jawa, di kawasan yang dikenal sebagai Tapal Kuda. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Bali di sisi timur dan utara, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Jember dan Bondowoso di sisi barat.
Dengan luas sekitar 3.593 km², Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur. Topografinya sangat beragam — mulai dari dataran tinggi pegunungan Ijen hingga dataran rendah pesisir dengan garis pantai panjang menghadap Samudra Hindia.
Data demografi dan luas wilayah dapat menyesuaikan rilis statistik terbaru.
Sejarah Banyuwangi tak terlepas dari Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur Pulau Jawa.
Wilayah ini menjadi pusat Kerajaan Blambangan, kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa, yang dipimpin antara lain oleh Prabu Tawang Alun pada abad ke-17.
Perlawanan heroik rakyat Blambangan terhadap VOC. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai dasar penetapan Hari Jadi Banyuwangi setiap 18 Desember.
Sejak berdirinya Republik Indonesia, Kabupaten Banyuwangi dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950, dengan ibu kota di Kecamatan Banyuwangi.
Kini Banyuwangi berkembang sebagai kawasan pariwisata dan ekonomi yang dinamis, ditopang konektivitas bandara, pelabuhan, dan jalur kereta api.
Identitas budaya Banyuwangi diwarnai oleh Suku Osing serta beragam festival yang kini berskala nasional.
Salah satu ragam tertua Bahasa Jawa dengan diftongisasi khas yang tidak ditemukan di dialek Jawa maupun Bali, masih digunakan sehari-hari di sejumlah kecamatan.
Tarian khas yang menjadi maskot kabupaten dan melahirkan julukan "Kota Gandrung", ditampilkan dalam berbagai upacara dan festival budaya.
Banyuwangi Ethno Carnival dan Gandrung Sewu menjadi agenda budaya yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahun.
Kawasan seperti Kemiren melestarikan rumah adat, kuliner, dan ritual tradisional masyarakat Osing sebagai warisan hidup.
Selain Osing, masyarakat Banyuwangi terdiri dari suku Jawa, Madura, Bali, Tionghoa, dan Arab yang hidup berdampingan.
Desa Patoman di Kecamatan Blimbingsari dikenal sebagai "Miniatur Pulau Bali" karena nuansa perdesaan dan tradisinya.
Setelah mengenal profil kawasan, telusuri destinasi wisata dan akses menuju Banyuwangi.